Rincian Masalah Serius yang Dihadapi Ratusan Seller Marketplace – digifolium.com. Memasuki tahun 2026, dunia marketplace seperti Shopee, Tokopedia, Tiktok Shop, dan Lazada semakin kompetitif. Jumlah seller terus bertambah, fitur makin kompleks, dan algoritma terus berubah. Sayangnya, di balik peluang besar tersebut, ratusan seller marketplace justru menghadapi masalah serius yang sama—bahkan sering kali tanpa mereka sadari.
Masalah-masalah ini bukan sekadar soal “sepi order”, tapi berkaitan langsung dengan strategi jualan online, pengelolaan toko, hingga efektivitas iklan marketplace. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin bisnis akan jalan di tempat, burnout, atau kalah bersaing.
Berikut adalah rincian masalah serius yang paling sering dialami seller marketplace di 2026, berdasarkan realita lapangan.
1. Terlalu Sibuk Operasional, Tapi Tidak Bertumbuh

Banyak seller marketplace merasa sibuk setiap hari, tapi omzet tidak naik signifikan. Waktu habis untuk:
👉 Upload produk
👉 Balas chat
👉 Update stok
👉 Urus promo dan campaign
Masalahnya, semua dikerjakan sendiri tanpa sistem dan tanpa tim. Akibatnya, seller kelelahan, tidak sempat evaluasi data, dan tidak fokus ke strategi besar seperti scale up toko marketplace.
2. Iklan Marketplace Jalan, Tapi Tidak Efektif

Iklan Shopee atau iklan marketplace lainnya sudah dinyalakan, saldo terpakai, tapi:
❌ ROAS rendah
❌ Order tidak stabil
❌ Produk tidak naik peringkat
Ini biasanya terjadi karena iklan dijalankan tanpa strategi:
❌ Tidak paham struktur campaign
❌ Tidak disesuaikan dengan margin produk
Tanpa optimasi yang tepat, iklan justru jadi biaya, bukan investasi.
3. Konten Produk Kurang Menjual
Di 2026, konten bukan lagi pelengkap, tapi penentu keputusan beli. Sayangnya, masih banyak seller marketplace yang:
❎ Pakai foto seadanya
❎ Deskripsi produk tidak persuasif
❎ Tidak menyesuaikan dengan algoritma marketplace
Padahal, konten toko yang kuat bisa:
✅ Meningkatkan CTR iklan
✅ Menaikkan konversi
✅ Memperkuat branding toko
Tanpa konten yang tepat, produk sulit bersaing meski harga sudah murah.
4. Tidak Paham Data dan Dashboard Performa

Masalah serius lainnya adalah buta data. Banyak seller tidak tau:
❌ Produk mana yang paling profit
❌ Iklan mana yang bocor budget
❌ Kenapa traffic tinggi tapi order rendah
Dashboard marketplace sering diabaikan karena dianggap rumit. Padahal, data adalah dasar untuk:
👉 Mengambil keputusan iklan
👉 Menentukan produk unggulan
👉 Mengatur stok dan promo
Tanpa membaca data, seller hanya mengandalkan perasaan.
5. Tidak Punya Tim dan Masih One Man Show
Masuk 2026, persaingan marketplace sudah bukan level solo player. Seller yang masih:
Desain sendiri 😥
Upload sendiri 😣
Setting iklan sendiri 😔
Akan sangat sulit bersaing dengan toko yang sudah punya tim konten, tim iklan, dan sistem kerja.
Banyak seller sadar butuh tim, tapi:
Tidak tau harus mulai dari mana
Takut biaya membengkak
Tidak punya SOP
Akhirnya, semua tetap dikerjakan sendiri sampai burnout.
6. Strategi Jualan Tidak Update dengan Perubahan Marketplace

Marketplace terus berubah:
Algoritma pencarian
Sistem iklan
Campaign dan fitur baru
Seller yang tidak update akan tertinggal. Strategi yang efektif di 2024 atau 2025 belum tentu relevan di 2026. Inilah kenapa edukasi dan pendampingan marketplace jadi semakin penting.
Kesimpulan: Masalahnya Nyata, Solusinya Harus Tepat
Masalah seller marketplace di 2026 bukan soal kurang usaha, tapi kurang sistem, strategi, dan support yang tepat. Tanpa evaluasi dan perubahan, seller akan terus terjebak di pola yang sama: sibuk, capek, tapi tidak berkembang.
Di sinilah pentingnya pendampingan profesional, optimasi toko, pengelolaan iklan yang strategis, serta konten yang benar-benar menjual.
Digifolium hadir untuk membantu seller marketplace keluar dari masalah-masalah ini—bukan hanya eksekusi, tapi juga strategi yang berbasis data dan pengalaman lapangan.
Kalau kamu merasa sedang berada di salah satu fase di atas, mungkin ini saatnya berhenti kerja sendirian dan mulai bangun sistem yang benar.




